Dari Rak Buku ke Ruang Digital: Refleksi Hari Kunjung Perpustakaan 2025

Setiap tanggal 14 September, kita memperingati Hari Kunjung Perpustakaan. Sekilas mungkin terasa seremonial belaka, namun jika ditelisik lebih dalam, momen ini justru mengundang pertanyaan kritis: masihkah perpustakaan relevan di tengah derasnya arus informasi digital? Saat gawai sudah menjadi “kantong pengetahuan” instan, banyak orang menganggap perpustakaan kian sepi peminat. Padahal, di balik rak-rak buku yang tenang, perpustakaan menyimpan peran besar dalam menjaga ekosistem literasi bangsa.

Dari Rak Buku ke Ruang Kolaborasi

Dulu, perpustakaan identik dengan ruangan sunyi, penuh buku, dan aturan ketat. Kini, wajah perpustakaan telah berubah. Ia bukan lagi sekadar tempat meminjam buku, tetapi ruang kolaborasi, diskusi, bahkan laboratorium kreativitas. Di Perpustakaan UNTIRTA, misalnya, lahir berbagai program seperti kelas literasi akademik, titik baca kampus, hingga kegiatan book sharing. Semua ini menunjukkan bahwa perpustakaan sedang bertransformasi: dari sekadar penyedia koleksi, menjadi pusat interaksi dan inovasi.

Lebih jauh, berkunjung ke perpustakaan tidak lagi sebatas urusan “masuk-pinjam-buku-kembalikan-bayar denda”. Perpustakaan kini menghadirkan berbagai pengalaman lain: ruang santai untuk membaca majalah atau koran, area diskusi kelompok, hingga co-working space dengan akses internet cepat untuk mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas atau mengembangkan proyek kreatif. Beberapa perpustakaan bahkan menyediakan ruang pemutaran film edukasi, sudut podcast, hingga ruang pelatihan keterampilan. Artinya, perpustakaan modern membuka banyak pintu: belajar, berkreasi, berjejaring, dan tentu saja, bersenang-senang.

Kunjungan Fisik vs Kunjungan Digital

Pertanyaan yang sering muncul: apakah berkunjung ke perpustakaan harus selalu datang secara fisik? Jawabannya: tidak. Di era digital, kunjungan bisa berbentuk fisik maupun virtual, dan keduanya memiliki nilai masing-masing. Kunjungan fisik menghadirkan pengalaman ruang berinteraksi dengan pustakawan, merasakan atmosfer belajar, serta membangun komunitas literasi. Sementara itu, kunjungan digital memberi fleksibilitas tanpa batas ruang dan waktu, membuka akses ke e-book, jurnal elektronik, hingga database ilmiah. Namun, pengalaman ini cenderung lebih individual. Karena itu, perpustakaan modern tidak bisa hanya mengandalkan salah satunya. Perpaduan kunjungan fisik dan digital justru membuat perpustakaan semakin relevan dan inklusif.

Tantangan Literasi di Era Digital

Era digital memang membawa kemudahan, tetapi juga problem baru. Informasi mengalir deras tanpa henti, sering kali tanpa filter. Hoaks dan misinformasi menjadi ancaman nyata. Di sisi lain, budaya membaca panjang kian menurun, tergantikan oleh kebiasaan membaca singkat di media sosial. Di titik inilah perpustakaan perlu hadir: bukan hanya mengoleksi buku, melainkan juga melatih kecakapan literasi digital. Perpustakaan tidak boleh puas dengan label “gudang ilmu”, tetapi harus gesit beradaptasi agar tetap menjadi rujukan terpercaya.

Apa yang Ditawarkan UNTIRTA di 2025?

Menjawab tantangan tersebut, Perpustakaan UNTIRTA terus berinovasi. Program Kelas Literasi Akademik membantu mahasiswa mengasah keterampilan menulis, meneliti, dan presentasi. Kampanye literasi digital berupaya membekali generasi muda agar lebih kritis terhadap informasi daring. Tidak berhenti di kampus, UNTIRTA juga memperluas jaringan ke desa-desa melalui program Pustakawan Masuk Desa serta kolaborasi dengan taman bacaan masyarakat. Kehadiran Duta Literasi UNTIRTA semakin memperkuat peran perpustakaan sebagai agen perubahan, menjadi penghubung antara mahasiswa, masyarakat, dan dunia literasi yang lebih luas.

Mengunjungi Perpustakaan, Mengunjungi Masa Depan

Hari Kunjung Perpustakaan seharusnya tidak hanya menjadi momen seremonial. Ia adalah pengingat bahwa perpustakaan adalah rumah bersama untuk belajar, tumbuh, dan berkolaborasi. Mengunjungi perpustakaan bukan soal datang lalu kembali pulang, melainkan soal menumbuhkan kebiasaan, membangun rasa ingin tahu, dan menyiapkan diri menghadapi masa depan. Di tengah hiruk pikuk dunia digital, perpustakaan hadir sebagai ruang hening yang justru memperkuat daya kritis kita.

Jadi, di tanggal 14 September 2025 ini, mari jadikan kunjungan ke perpustakaan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari gaya hidup. Karena sesungguhnya, setiap kali kita melangkah ke perpustakaan baik secara fisik maupun digital, kita sedang melangkah menuju masa depan literasi bangsa.

Selamat Hari Kunjung Perpustakaan 2025!
Semoga perpustakaan terus berkembang menjadi pusat literasi, inovasi, dan kolaborasi yang menginspirasi. Harapannya, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang hidup yang menumbuhkan generasi pembelajar sepanjang hayat.

Scroll to Top